9 Film Indonesia Paling Kontroversial namun Berprestasi

20 July 2014

Industri film di tanah air memang sedang menunjukkan gebrakan, terbukti banyak film Indonesia yang berhasil sukses di tayangkan di bioskop. Beberapa film bahkan mendapatkan penghargaan dari ajang perfilman mancanegara.

Sayangnya, tidak sedikit film Indonesia yang memperoleh sambutan sedikit baik bahkan harus merasakan pahitnya pemboikotan. Kondisi itu dipengaruhi berbagai aspek diantaranya problem internal yang terjadi di tubuh rumah pembuatan atau pelanggaran normal warga. Menariknya, hampir sebagian gede film kontroversial yang tahu ditolak bahkan diboikot telanjurkan mendapatkan apresiasi tinggi daripada kancah internasional.

Susunan Film Indonesia Paling Polemis

  1. 2 Garis Biru (2019)

garis biru 2019
Film ini jadi banyak reaksi pro & kontra bahkan sebelum dirilis di bioskop. Banyak yang menentang film Dua Perenggan Biru karena alur kecek yang diangkat dinilai terlalu sensitif. Meskipun telah mendapatkan petisi pelarangan tayang, pada akhirnya film ini beroperasi merilis poster dan weker tayang diseluruh bioskop tanah air. Film Dua Perenggan Biru akan ditayangkan Juli 2019 di xx1 indo .

Mengisahkan tentang Bima dan Dara sepasang tuan, keduanya masih sangat belia dan berstatus sebagai pelajar SMA. Cinta yang terlalu buta membuat mereka terkait dengan layaknya suami istri di luar nikah. Karena laksana tersebut, Dara pun bunting.

  1. Kucumbu Tubuh Indahku (2018)

Film ini menjadi amat kontroversial karena mengusung genre maskulin-feminin. Dan belakangan penuh yang mengaitkan Kucumbu Jasad Indahku sebagai film berupa LGBT. Menceritakan tentang Juno, seorang penari Lengger Lanang yang tumbuh di tengah-tengah kekerasan politik. Di usianya yang sangat muda, Juno telah melihat banyak kebengisan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Dan karena tanda itulah, Juno muda kudu hidup nomaden dari wahid tempat ke tempat yang lain yang kemudian memperkenalkannya dengan berbagai orang baru. Film Kucumbu Tubuh Indahku kiranya banyak diboikot oleh pemerintah. Namun film ini tercatat telah memenangkan penghargaan dalam Asia Pacific Screen Award dan penghargaan bergengsi yang lain lain.

  1. Look of Silence (2014)

Merupakan salah satu film dokumenter terbaik yang tahu masuk dalam nominasi Oscar. Sayangnya, film garapan Oppenheimer ini banyak memperoleh penolakan dari berbagai pihak dalam Indonesia.

Senyap atau The Look of Silence menceritakan kisah Adi dan rombongan yang dituduh sebagai bagian PKI. Tema utama film ini sekilas memang serupa dengan film Jagal, tapi film Senyap lebih banyak menjelaskan tentang kisah pembantaian massal.

  1. The Sun, The Moon and The Hurricane (2014)

Menjadi sangat kontroversial di Indonesia, karena film ini mengangkat tema LGBT. Sudah jadi rahasia lazim jika tema ini membangkitkan pro dan kontra. Sedangkan jika melihat dari sosok lain film ini memiliki plot yang baik. Akting para aktornya pun sangat bagus.

Film ini menyampaikan kisah Rain dan Kris. Kisah dimulai ketika Kris menolong Rain yang dianiaya oleh teman SMA-nya. Pada akhir perkelahian yang terjadi, Kris mengajak Rain menginap di rumahnya yang lantas menjadi rutinitas baru kira Rain. Rain yang culun memiliki karakter yang sangat berbeda dengan Kris yang bandel dan sangat maskulin.

Karena sudah terbiasa megah, Rain yang memiliki gambaran homoseksual pada akhirnya tanggal cinta dengan Kris. Dan meskipun memiliki kekasih yang cantik, sebenarnya Kris kendati memiliki kecenderungan untuk menyenangi sesama jenis. Pertentangan langsung pertentangan terjadi di renggangan keduanya, hingga suatu kasus pada akhirnya mengubah roh persahabatan mereka.

  1. Parts of the Heart (2012)

Menyatakan tentang Peter, pria homoseksual yang menetap di metropolitan metropolitan, Jakarta. Kisah gelisah Peter bukanlah kisah roman biasa, dia harus dengan perantara berbagai babak sejak cinta pertama hingga kehidupan ijab kabul.

Pada film Parts of the Heart kita hendak melihat sisi lain dari kehidupan pria homoseksual, dikategorikan tekanan sosial yang dialaminya dari orang sekitar. Berhasilkah, Peter menjaga mahligai pernikahannya dan menjauh dari rayuan pria lain?

  1. About A Woman (2014)

Tidak berbeda tersendiri dari film sebelumnya yaitu Something in The Way. Film About A Woman garapan Teddy Soeriaatmadja terencana tidak diangkat ke sebeng lebar untuk menjaga substansi filmnya.

About A Woman mengisahkan mengenai seorang randa yang berusia 65 tahun. Hidupnya yang sendiri membuatnya merasa kesepian. Suatu perian, anaknya mengirimkan Abi pelajar SMA yang beru mara untuk menemani sekaligus mengurusnya.

Tapi entah sejak saat, Abi dan si randa mulai memiliki pandangan bertentangan antara satu dan yang lain lain. Kasih sayang yang tadinya bersifat biasa mulai berubah menjadi kasih sayang yang bersifat cinta. Konsep agama, seksualitas serta kemunafikan intim memenuhi alur cerita About A Woman. Film tersebut hanya diputar di Singapura dan berhasil memperoleh banyak perhatian dari luar zona.

  1. Something In The Way (2013)

Berbeda dari genre dan konsep sebelumnya, film Something in the Way menjadi kontroversial karena dinilai sebagai film Dewasa. Film ini menceritakan tentang Ahmad (Reza Rahadian) seorang anak muda yang rajin, pandai bersebati dan pekerja keras. Akan tetapi, di sisi tergelapnya Ahmad ternyata memiliki libido yang tinggi terutama ketika tahu wanita.

Kisah Ahmad jadi semakin rumit saat dirinya jatuh cinta pada Kinar (Ratu Felisha) yang bekerja serupa PSK. Sedangkan di kelompok lainnya, ada Raya (Rosnita Putri) seorang gadis baik hati yang ditunangkan beserta Ahmad.

  1. Siti (2014)

Film karya Eddie Cahyono ini mengisahkan tentang kehidupan wanita yang berprofesi sebagai moderator karaoke rakyat jelata di Parangtritis. Profesi yang dijalaninya ditentang oleh Bagus sang teman hidup. Siti yang merasa semak hati dan tertekan bertemu secara polisi yang kemudian menawarkan hubungan pernikahan dengannya.

Film hitam putih ini sebelumnya tidak ditayangkan di teater Indonesia. Tapi karena keberhasilannya menyabet penghargaan selaku Film Terbaik FFI 2015, di dalam akhirnya Film Siti beroperasi naik ke layar bioskop denpasar cineplex .

  1. Act of Killing (2012)

Sebelumnya telah dijelaskan tentang film Jagal yang memiliki postulat film yang serupa seperti film Senyap. Film karya Oppenheimer ini dalam prosesnya cuma ditayangkan di lembaga & kampus tertentu.

Film dokumenter ini banyak memperlihatkan sosok lain dari kisah pengatur pembunuhan anti-PKI. Act of Killing atau Jagal memproyeksikan tragedi yang terjadi antara tahun 1965-1966 di mana pelaku pembunuhan tersebut memandang perbuatannya yang kejam sebagai aksi heroik.

Film tersebut diboikot dan banyak ditentang karena dikhawatirkan akan menimbulkan jiwa komunisme pada tingkatan masa kini. Di medan internasional, film Jagal berhasil mendapatkan penghargaan di BAFTA 2014.

Itulah daftar film paling kontroversial yang pernah melingkupi perkembangan perfilman dalam Indonesia. Salah satu atau beberapa film mungkin pas familiar di telinga kita, bahkan mungkin sudah tahu ditonton sebelumnya.

Terlepas daripada kontroversial yang melingkupi film-film tersebut, sebagai penonton yang bijak setidaknya kita bisa memilih dan memilah mana film yang layak tunduk dan tidak. Hendaknya juga tidak langsung ikut mengupas karya film milik orang2 lain tanpa melihat lebih dalam kualitas dan prosedur pembuatan dari film itu.

 

Penjelasan : Film polemis berikut pernah diboikot akan tetapi justru mendapatkan apresiasi tinggi dari kancah internasional, menyimak daftarnya di sini.